A joint media project of the global news agency Inter Press Service (IPS) and the lay Buddhist network Soka Gakkai International (SGI) aimed to promote a vision of global citizenship which has the potentiality to confront the global challenges calling for global solutions, by providing in-depth news and analyses from around the world.

Please note that this website is part of a project that has been successfully concluded on 31 March 2016.

Please visit our project: SDGs for All

U.N. Marks Humanitarian Day Battling Its Worst Refugee Crisis - Bhasa Indonesia

 PBB Memperingati Hari Kemanusiaan Dunia dengan Memerangi Krisis Pengungsi yang Terburuk

Oleh Thalif Deen

Perserikatan Bangsa-Bangsa (IPS) - Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingati Hari Kemanusiaan Dunia dengan kisah-kisah perjuangan hidup manusia yang "menginspirasi" – sekalipun badan dunia tersebut menyatakan bahwa krisis pengungsi yang tengah berlangsung saat ini adalah yang terburuk selama hampir seperempat abad.

Kampanye yang sebagian besar diadakan di Facebook, Twitter, dan Instagram ini diharapkan untuk membanjiri umpan media sosial dengan kisah-kisah bertahan hidup dan harapan dari seluruh dunia, dan disertai juga dengan sebuah konser musik yang digelar di New York.

"Memang benar bahwa kita hidup pada sebuah momen dalam sejarah di mana belum pernah timbul kebutuhan akan bantuan kemanusiaan yang lebih besar dari ini sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa didirikan," ucap juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

"Setiap hari, saya berbicara tentang orang-orang dan saya menggunakan angka, dan angkanya terus bertambah — 10.000, 50.000," keluhnya.

Namun berdasarkan statistik PBB, angka tersebut bahkan lebih mengkhawatirkan lagi dibandingkan yang terlihat: lebih dari 4 juta penduduk Suriah kini menjadi pengungsi di negara-negara tetangga, meliputi Turki, Irak, dan Lebanon (belum termasuk ratusan warga yang kehilangan nyawa mereka di tengah laut setiap minggunya dalam usaha mereka untuk mencapai Eropa dan melarikan diri dari perang yang mengerikan di negara asal mereka).

Dan yang lebih menggelisahkan, setidaknya ada 7,6 juta orang lagi yang terpaksa mengungsi di wilayah Suriah – semuanya membutuhkan bantuan kemanusiaan—dan lebih dari 220.000 orang telah terbunuh dalam konflik militer yang kini memasuki tahunnya yang kelima.

Stephen O'Brien, selaku Koordinator Bantuan Darurat PBB, mengatakan bahwa "dengan hampir 60 juta orang yang terpaksa mengungsi di seluruh dunia, kita menghadapi krisis dalam skala yang belum pernah dilihat selama bergenerasi-generasi."

Pada awal Agustus, O'Brien memutuskan untuk mengeluarkan sekitar 70 juta dolar dari dana cadangan PBB, yang disebut Pusat Dana Tanggap Darurat (CERF) - yang ditujukan terutama bagi operasi bantuan kemanusiaan yang sangat kekurangan dana.

Di samping Suriah, Afganistan, dan Yaman,  krisis kemanusiaan juga telah menimbulkan dampak besar terhadap Sudan, Sudan Selatan, Tanduk Afrika, Chad, Republik Afrika Tengah, Myanmar, dan Bangladesh, di antara sejumlah negara lainnya.

Noah Gottschalk, selaku Penasihat Senior Kebijakan Bantuan Kemanusiaan di Oxfam International, memberi tahu IPS bahwa sistem kemanusiaan internasional yang diciptakan berpuluh-puluh tahun yang lalu telah menyelamatkan jiwa yang tak terhitung jumlahnya. Akan tetapi, saat ini sistem kemanusiaan tersebut tengah "kewalahan dan kekurangan dana" dengan bencana alam yang diperkirakan akan meningkat baik dalam frekuensi maupun keparahan, dan di waktu yang sama dengan krisis berkepanjangan yang belum pernah ada sebelumnya seperti konflik yang terjadi di Suriah.

"Sejumlah pendonor telah sangat bermurah hati dan bantuan dari mereka sangatlah penting dan sangat kami hargai, tetapi sayangnya itu masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang terus-menerus bertambah," ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sistem kemanusiaan yang lebih besar perlu direformasi untuk menjadi lebih efisien dan menanggapi kebutuhan dengan lebih baik dengan mendukung kepemimpinan setempat dan program-program kapasitas dan pendanaan yang membantu komunitas untuk meringankan dampak dari bencana sebelum keadaan darurat terjadi.

Sementara itu, kampanye media sosial ShareHumanity yang saat ini tengah digelar, berharap untuk membangun momentum menuju Konferensi Tingkat Tinggi Kemanusiaan Dunia yang pertama yang akan diadakan di Istanbul pada bulan Mei yang akan datang.

Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), kampanye Hari Kemanusiaan Dunia tahun ini, yang dimulai tanggal 19 Agustus, mencerminkan sebuah dunia di mana kebutuhan akan bantuan kemanusiaan jauh melampaui kapasitas komunitas pendukung untuk membantu berjuta-juta korban bencana alam, konflik, kelaparan, dan penyakit.

Gottschalk dari Oxfam memberi tahu IPS bahwa Hari Kemanusiaan Dunia adalah sebuah kesempatan penting untuk berhenti dan memberikan penghormatan kepada para pria dan wanita pemberani yang bekerja tanpa kenal lelah di seluruh dunia setiap harinya demi menyelamatkan banyak jiwa di tengah-tengah situasi yang luar biasa sulit.

Ia berkata bahwa pekerja kemanusiaan setempat sering kali adalah yang pertama kali merespons saat krisis terjadi, tetapi mereka jarang menerima pengakuan dan, yang paling penting, dukungan yang layak mereka dapatkan untuk memimpin gerakan bantuan kemanusiaan di negara mereka sendiri.

Oxfam telah memberikan dorongan kuat untuk kontribusi wajib dari Negara-Negara Anggota PBB guna mendanai bantuan kemanusiaan, yang menurutnya akan menyediakan aliran dana yang lebih kuat dan konsisten.

Dana tersebut harus lebih banyak mengalir langsung ke tingkat lokal, dan dialokasikan dengan lebih transparan agar pendonor dapat memantau dampaknya dan komunitas-komunitas setempat dapat mengikuti bantuan dan meminta para pemimpin mereka untuk bertanggung jawab serta menuntut hasil, ucap Gottschalk.

Ia mengatakan bahwa jutaan orang di seluruh dunia bergantung kepada sistem kemanusiaan global, dan hal ini dapat terwujud sebagian besar berkat adanya orang-orang yang berkomitmen dan berjuang dengan penuh semangat demi menyukseskan sistem ini meskipun sumber daya terus berkurang dan jumlah kebutuhan terus bertambah.

Reformasi akan membuat sistem ini menjadi lebih efektif dan melengkapi kebutuhan para pekerja kemanusiaan yang berdedikasi ini dengan lebih baik demi menyelamatkan jiwa-jiwa dan meringankan penderitaan, demikian ungkap Gottschalk.

Konflik militer yang berkepanjangan juga telah mengklaim jiwa ratusan pekerja kesehatan, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa.

Di tahun 2014 saja, WHO mengatakan bahwa organisasi tersebut menerima laporan 372 serangan di 32 negara terhadap pekerja kesehatan, yang memakan 603 korban jiwa dan 958 luka-luka. Insiden-insiden serupa juga telah dicatat pada tahun ini.

"WHO berkomitmen untuk menyelamatkan jiwa dan meringankan penderitaan di waktu krisis. Serangan terhadap fasilitas dan pekerja layanan kesehatan merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional," ungkap Dr. Margaret Chan, selaku Direktur Jenderal WHO, dalam sebuah pernyataan yang dirilis untuk memperingati Hari Kemanusiaan Dunia.

Ia berkata bahwa para pekerja kesehatan memiliki kewajiban untuk merawat orang-orang yang sakit dan terluka tanpa mendiskriminasi. "Semua pihak dalam konflik ini harus menghormati kewajiban tersebut," demikian ia menyatakan. (IPS | 18 Agustus 2015)