A joint media project of the global news agency Inter Press Service (IPS) and the lay Buddhist network Soka Gakkai International (SGI) aimed to promote a vision of global citizenship which has the potentiality to confront the global challenges calling for global solutions, by providing in-depth news and analyses from around the world.

Please note that this website is part of a project that has been successfully concluded on 31 March 2016.

Please visit our project: SDGs for All

U.N. to Unleash “Power of Education” to Fight Intolerance, Racism - Bhasa Indonesia

PBB Akan Melancarkan “Kekuatan Pendidikan” untuk Melawan Ketidaktoleranan, Rasisme

Oleh Thalif Deen

PBB (IPS) – PBB berencana untuk meluncurkan kampanye global melawan penyebaran ketidaktoleranan, ekstremisme, rasisme dan xenofobia - sebagian besar dengan memanfaatkan bakat generasi muda.

Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon mengatakan pendidikan adalah kuncinya. "Jika Anda ingin memahami kekuatan pendidikan, Anda hanya perlu melihat bagaimana para ekstremis melawan pendidikan."

Mereka ingin membunuh aktivis remaja Pakistan, Malala Yousafzai dan teman-temannya karena mereka adalah gadis-gadis yang ingin pergi ke sekolah, ujarnya.

Ekstremis kekerasan menculik lebih dari 200 anak perempuan di Chibook, Nigeria, dan puluhan siswa dibunuh di Garissa, Kenya dan di Peshawar, Pakistan.

"Apa yang paling mereka takuti ialah anak perempuan dan orang-orang muda dengan buku teks," kata Ban, yang akan segera mengumumkan "Rencana Aksi yang komprehensif untuk Mencegah Kekerasan Ekstremisme," bersamaan dengan perwujudan sebuah panel penasehat yang terdiri dari para pemimpin agama untuk mempromosikan dialog antar agama.

Rencana tersebut akan dipresentasikan pada sesi ke-70 Sidang Umum, yang dimulai pada minggu ketiga September.

Sebagai bagian dari kampanye melawan ketidaktoleranan dan ekstremisme, Departemen Informasi Publik (DPI) PBB baru-baru ini memilih 10 proyek dari orang-orang muda dari seluruh dunia, dalam apa yang disebut sebagai "Kontes Keanekaragaman" yang memilih pendekatan-pendekatan kreatif untuk membantu mengatasi berbagai macam diskriminasi, prasangka dan ekstremisme.

Proyek-proyek tersebut, yang dipilih dari lebih dari 100 peserta dari 31 negara, termasuk tantangan homofobia di India dan Meksiko; penyelesaian konflik untuk mengakses air untuk mengurangi konflik etnis di Burundi; menggalakkan harmoni antar agama di Pakistan; mendorong penerimaan yang lebih besar untuk populasi migran di Afrika Selatan dan mempromosikan kesempatan kerja yang lebih besar untuk para perempuan Muslim di Jerman.

Lara-Zuzan Golesorkhi, seorang mahasiswa PhD dan instruktur di New School di New York yang mengirimkan salah satu proyek pemenang hadiah, mengatakan kepada IPS bahwa ia berusaha untuk mengatasi salah satu masalah politik yang paling dibahas dalam Jerman kontemporer: integrasi para imigran Muslim.

Di tengah-tengah diskusi, Golesorkhi mengatakan, terletak apa yang disebut 'debat jilbab’, yang dibawa oleh kasus Ludin pada tahun 1998.

Pada tahun itu, Fereshta Ludin (putri seorang imigran Afghanistan) ditolak mengajar oleh sistem sekolah umum negara atas dugaan "kurangnya bakat pribadi" yang membuatnya "tidak cocok dan tidak dapat melakukan tugas-tugas seorang pegawai negeri sesuai dengan UUD Jerman."

Sengketa tak berujung antara Ludin dan sistem peradilan Jerman menyebabkan pengesahan kebijakan pelarangan tudung kepala berbasis negara bagian yang diinstitusionalkan bagi seluruh guru sekolah umum di Jerman.

Kebijakan ini berlaku di delapan negara bagian dan baru-baru ini dipertanyakan di tingkat federal dengan keputusan pengadilan yang menuntut negara-negara bagian masing-masing untuk merevisi kebijakan diskriminatif yang inheren ini, kata Golesorkhi.

DPI mengatakan bahwa Golesorkhi akan kembali ke Jerman untuk menantang diskriminasi yang dirasakan terhadap perempuan Muslim.

Dia akan meminta para calon majikan secara simbolis berjanji untuk mempekerjakan para wanita Muslim. Dia juga akan membuat daftar para pengusaha sehingga para wanita dapat merasa aman dan terdorong untuk melamar di tempat-tempat kerja tersebut.

Tujuan akhirnya ialah untuk membantu mengurangi diskriminasi dan meningkatkan hubungan kerja para wanita Muslim di Jerman.

The New York Times, mengutip Media Studi Keagamaan dan Informasi Pelayanan di Jerman, melaporkan bulan lalu bahwa orang-orang Muslim menyusun sekitar 5,0 persen dari 81 juta populasi, dibandingkan dengan 49 juta orang Kristen.

Surat kabar fokus pada kontroversi yang berkembang terkait dengan renovasi sebuah gereja yang ditinggalkan di distrik kelas pekerja Horn di Hamburg – di mana “bangunan terlantar tersebut sedang diubah menjadi sebuah masjid."

"Gereja tersebut kosong selama 10 tahun, dan tak ada yang peduli," Daniel Abdin, direktur Pusat Islam Al Nour di Hamburg mengatakan kepada Times, "Tapi ketika orang-orang Muslim membelinya, tiba-tiba menjadi pusat perhatian."

Golesorkhi menceritakan kepada IPS mengenai organisasi nirlaba 'With or Without' (WoW)-nya, dalam bentuknya yang paling abstrak, yang bertujuan mengatasi persimpangan dua aspek penting dalam pemerintahan Jerman: imigrasi dan agama.

Imigrasi dan agama telah memainkan peranan yang  penting dalam proses pembangunan bangsa Jerman, khususnya dalam hal hukum negara dan komposisi sosial yang beragam, serta pengembangan sentimen anti-Muslim (Islamofobia) dan aksi-aksi diskriminatif terhadap kaum Muslim (khususnya setelah peristiwa 9 September).

Dia mengatakan bahwa populasi Muslim di Jerman telah meningkat dari sekitar 2,5 juta di tahun 1990 menjadi 4,1 juta pada tahun 2010 dan diperkirakan akan tumbuh menjadi hampir 5,5 juta Muslim di tahun 2030.

Tiga negara teratas asal imigran Muslim ialah Turki, bekas Yugoslavia, dan Maroko.

Kehadiran kaum Muslim yang signifikan dan terus berkembang ini Muslim telah menghasilkan beragam respons dari negara bagian dan masyarakat, catatnya.

Meskipun sebagian besar (72 persen) dari mereka yang diwawancarai dalam sebuah studi di tahun 2008 menyatakan bahwa "orang-orang dari kelompok minoritas memperkaya kehidupan budaya negeri ini", orang-orang Muslim adalah tetangga paling tidak diinginkan, seperti yang ditunjukkan oleh data dari tahun yang sama.

Lebih jauh lagi, 23 persen dari para responden Jerman, ujarnya, menghubungkan orang-orang Muslim dengan teror, sementara 16 persen melihat jilbab, penutup kepala para wanita Muslim sebagai ancaman terhadap budaya Eropa.

Dalam studi terbaru mengenai sentimen anti-Muslim yang dilakukan oleh Bertelsman Stiftung pada akhir tahun 2014, 57 persen dari para responden non-Muslim mengatakan bahwa mereka menganggap Islam sangat mengancam.

Studi ini juga mengungkapkan bahwa 24 persen dari para responden ingin melarang imigrasi Muslim ke Jerman dan sebanyak 61 persen mengatakan bahwa menurut mereka Islam tidak memiliki tempat di dunia 'Barat'.

Proyek Golesorkhi ini meliputi seminar dan seri lokakarya 'Siap Bekerja' untuk mempersiapkan para wanita Muslim masuk ke pasar kerja Jerman; "Kampanye Saya Berjanji", sebuah kampanye online dan offline (Twitter dan seri foto) untuk mendorong para pengusaha secara simbolis berjanji mempekerjakan para wanita Muslim; dan kampanye online dan offline (Twitter dan seri foto) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesulitan yang dihadapi oleh perempuan Muslim di sektor ketenagakerjaan Jerman.

Sementara sebuah janji tidak akan menjamin adanya hubungan kerja, hal itu akan memungkinkan WoW untuk menghasilkan basis data para pengusaha yang akan mempekerjakan perempuan Muslim.  (IPS | 12 Agustus 2015)