A joint media project of the global news agency Inter Press Service (IPS) and the lay Buddhist network Soka Gakkai International (SGI) aimed to promote a vision of global citizenship which has the potentiality to confront the global challenges calling for global solutions, by providing in-depth news and analyses from around the world.

Please note that this website is part of a project that has been successfully concluded on 31 March 2016.

Please visit our project: SDGs for All

U.N. Taps Private Sector to Fund Development, Advocate Social Causes - Bhasa Indonesia

PBB Menoleh Kepada Sektor Swasta untuk Pendanaan Pembangunan, Mengajukan Kepentingan-kepentingan Sosial

Oleh Thalif Deen

PBB (IPS) – Kapan pun PBB berupaya mencari bantuan finansial dari luar entah untuk kebutuhan pembangunan atau untuk kepentingan-kepentingan sosial, akhir-akhir ini mereka selalu menoleh kepada sektor swasta.

Mungkin yang paling menuntut ialah permohonan Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon kepada investor swasta untuk membantu PBB mencapai target 100 miliar dolar per tahun untuk mengatasi konsekuensi perubahan iklim yang menghancurkan.

Meski demikian, para kritikus telah mendesak PBB untuk memeriksa ulang beberapa dari perusahaan-perusahaan ini – sehubungan dengan isu-isu seperti hak asasi manusia, upah yang adil, pekerja anak dan catatan lingkungan mereka - sebelum memutuskan untuk bekerja sama.

Namun, pada skala yang lebih sederhana, Program Pembangunan PBB (UNDP) telah menerima dana sebesar 135 juta dolar dari sektor bisnis antara tahun 2009 dan 2013 untuk beberapa proyeknya yang berkaitan dengan air, energi, kesehatan, pertanian dan keuangan serta teknologi informasi.

Sebuah perusahaan Afrika Selatan yang bernama Mediclave telah menyumbangkan mesin sterilisasi yang dapat mendekontaminasi peralatan medis dan limbahnya, seperti jarum suntik, pakaian pelindung pribadi dan sarung tangan, yang digunakan dalam mengobati penyakit menular.

Di Liberia, sebuah perusahaan Jepang, Panasonic, telah mendistribusikan pengiriman pertama 240 lentera surya untuk tenaga kesehatan di Monrovia, yang memungkinkan mereka untuk bekerja pada malam hari.

UNDP juga memiliki kemitraan dengan Svani Group Limited, penjual kendaraan Ghana, yang telah menyumbangkan lebih dari delapan kendaraan lapis baja yang dikerahkan ke Misi Tanggap Darurat Ebola PBB (UNMEER) di Guinea, Liberia, Sierra Leone dan Ghana.

Dan belakangan ini, Dampak Akademik PBB (UNAI), yang didirikan di bawah naungan Departemen Informasi Publik (DPI) telah berkolaborasi dengan "Yayasan UnHate" United Colours of Benetton untuk mengadakan Kontes Keragaman yang “menampilkan keterlibatan orang-orang muda di seluruh dunia, dan inovasi, energi serta komitmen yang mereka bawa melalui solusi pribadi yang ditujukan kepada beberapa masalah dunia yang paling mendesak", termasuk SARA dan xenofobia.

Kontes ini menyedot lebih dari 100 peserta dari 31 negara di seluruh dunia dengan ide-ide inovatif dan solusi untuk mengatasi berbagai masalah, terutama intoleransi, rasisme dan ekstremisme.

Sebuah panel juri memilih 10 pemenang yang menerima masing-masing 20.000 Euro yang disumbangkan oleh United Colors of Benetton, merek fashion global yang berbasis di Italia.

Benetton juga telah bekerja sama dengan UN Women dalam kampanyenya yang intensif untuk menghilangkan kekerasan gender di seluruh dunia.

Nanette Braun, Kepala Komunikasi dan Advokasi di UN Women, berkata bahwa Yayasan UnHate IPS Benetton telah mendukung UN Women dalam advokasinya untuk mengakhiri kekerasan terhadap wanita selama dua tahun terakhir melalui iklan dan kampanye media sosial.

"Kami berharap dapat memperluas kemitraan dan kolaborasi di masa depan," tambahnya.

Ditanya tentang peran Benetton dalam mendukung program-program PBB, Mariarosa Cutillo, Manajer Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Grup Benetton di Milan, mengatakan kepada IPS bahwa alasan utamanya adalah "karena, pertama-tama, ini merupakan bagian integral dari DNA perusahaan kami, yang selalu berada di garis depan - sering dengan cara yang provokatif dan sangat progresif - mengenai isu-isu sosial, termasuk memerangi segala bentuk intoleransi dan diskriminasi ".

Dia lalu menyebutkan bahwa pendekatan ini telah dikonsolidasikan melalui proyek-proyek sosial dan kampanye-kampanye komunikasi, dan juga telah diterjemahkan melalui pembentukan Yayasan UnHate.

Sejak tahun 2011, Yayasan yang merupakan salah satu lengan dari perusahaan telah mengembangkan program-program sosial untuk melawan kebencian dalam segala bentuknya, sembari mendukung kepemimpinan orang-orang muda.

"Kami percaya bahwa kaum muda dapat membuat perbedaan, terutama dalam pencapaian agenda setelah tahun 2015: tetapi memberikan suara kepada mereka tidaklah cukup. Penting untuk memberikan kepada generasi yang baru alat untuk membuat perubahan."

Dengan inisiatif berita UnHate, dalam kemitraan dengan UNAI/DPI, "kami mengaktifkan kaum muda dan memberikan kepada mereka kemungkinan untuk mengembangkan proyek-proyek konkret dalam bidang hak asasi manusia dan pembangunan."

Cutillo juga mengutip "contoh luar biasa yang lain akan dukungan sukses dan aktivasi kaum muda yang didukung oleh Yayasan UnHate, yaitu inisiatif 'Bukan Pegawai Tahun Ini' di mana Yayasan membiayai 100 proyek dan rintisan yang diajukan dan diimplementasikan oleh orang-orang muda pemuda yang datang dari seluruh dunia pada tahun 2012."

Tahun Bukan Pegawai merayakan kecerdikan, kreativitas, dan kemampuan orang muda untuk menciptakan cara-cara baru yang cerdas dalam menangani masalah pengangguran.

Secara umum, ia mengatakan, "menempatkan orang-orang di pusat kegiatan kami adalah salah satu poin kunci dari strategi keberlanjutan Grup Benetton, di mana Yayasan UnHate merupakan salah satu asetnya."

Ia menggambarkannya sebagai contoh kemitraan swasta/publik yang dapat bekerja dalam cara yang inovatif, dengan mengaktifkan generasi baru dan memberikan mereka sarana untuk menjadi pemimpin perubahan.

Ditanya apakah Benetton berencana untuk terlibat dalam acara lainnya yang disponsori PBB di masa yang akan datang,

Cutillo mengatakan kepada IPS: "Kami saat ini mengkaji lebih lanjut program kolaborasi untuk masa yang akan datang dengan UNAI/DPI."

Dia juga mengatakan bahwa Benetton memiliki catatan 20 tahun kerjasama, dengan cara yang berbeda-beda, dengan PBB.

Lebih dari sebelumnya, "Benetton berpendapat bahwa PBB adalah mitra yang paling penting dalam keterlibatan para pemangku kepentingan dalam strategi keberlanjutan kami saat ini."

Ia mengatakan bahwa ia memandang kemitraan dengan badan-badan PBB sebagai "suatu proses pertumbuhan bersama dalam peran kami masing-masing, di mana kami dapat memberikan kontribusi aktif terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGS) dengan melaksanakan kemitraan yang dapat membawa pendekatan inovatif pendekatan dan dampak yang nyata dan konkret.” (IPS | 5 Agustus 2015)